Sejarah Pembangunan Makam Imogiri

Makam Imogiri Yang Mempesona

makam imogiri

Menurut sejarah masa lalu, makam Imogiri sebenarnya bagian dari bangunan keraton Kasultanan. Makam para raja yang terletak di atas perbukitan. Setelah kerajaan Mataram Islam mengalami perpecahan dan terbagi menjadi dua yaitu Kasunanan yang terletak di Surakarta dan Kasultanan yang berada di Yogyakarta, maka makam Imogiri itu pun juga terpecah menjadi 2 bagian. Untuk bagian sebelah barat dipergunakan sebagai tempat pemakaman bagi para raja-raja yang berasal dari Kasunanan Surakarta, sedangkan untuk bagian timur dipergunakan sebagai tempat pemakaman para raja yang berasal dari Kasultanan Yogyakarta.

Makam Imogiri Jogja merupakan makam bagi Raja-raja Mataram yang terletak di desa Ginirejo, Imogiri, Yogyakarta. Menjadi bagian dari sejarah dan warisan yang sangat berharga bagi masyarakat Jogja dan Indonesia Raja kerajaan Mataram yang pertama kali di makamkan di makam Imogiri ini adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo, beliau telah berpesan apabila kelak beliau mangkat atau wafat minta untuk di makamkan di tempat tersebut. Sampai saat ini para raja baik dari Kasutanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta yang telah mangkat semua di makamkan di pemakaman Imogiri ini. Komplek pemakaman Imogiri memiliki luasnya kira-kira sekitar 10 hektar, di tempat ini bukan hanya terdapat makam persemayaman para raja saja, melainkan juga terdapat masjid, gapura, kelir (sebuah bangunan yang dipergunakan sebagai pembatas pintu gerbang), padasan ( tempat yang dipergunakan untuk berwudlu yang biasa di isi satu tahun sekali lebih tepatnya di bulan Suro) dan juga trdapat sebuah kolam yang terletak di sekitar masjid.

 

Tata Cara atau Aturan Memasuki Makam Raja-raja Imogiri :

Ada beberapa aturan atau tata cara bagik setiap pengunjung yang akan memasuki Makam Raja-raja Imogiri tersebut, diantaranya :

  • Memakai pakaian tradisional Jawa, bagi pria, diharuskan mengenakan pakaian peranakan berupa beskap berwarna hitam atau biru tua bergaris-garis tanpa memakai keris atau hanya memakai kain/ jarit tanpa baju. Sedangkan bagi wanita menggunakan kemben.
  • Selama berziarah pengunjung tidak dibolehkan memakai perhiasan.

Namun untuk kerabat istana khususnya putra dan putri raja ada peraturan tersendiri, diantaranya :

  • Bagi Pria memakai beskap tanpa keris
  • Bagi Putri dewasa mengenakan kebaya dengan ukel tekuk
  • Bagi Putri yang masih kecil memakai sabuk wolo ukel konde.

 

Terima Kasih Telah Mengunjungi Web Site Kami :

wiratourjogja.com / wiratourjogja.co.id

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*